Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Penggunaan Metode Problem Solving di Kelas V SDN 1 Cijeunjing.
a.                 Hasil Belajar Siswa
Tes hasil belajar siswa  tiap siklus dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Soal tes hasil belajar untuk setiap siklus berbentuk isian berjumlah 5 soal masing-masing memiliki bobot 20.  Rumus yang digunakan dalah mencari rata-rata. Rata-rata diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor tes hasil belajar dibagi dengan banyak soal. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar dalam tiap siklusnya mengalami peningkatan,mulai dari siklus I sampai siklus II. Pada siklus II seluruh siswa sudah mencapai KKM yang ditentukan yaitu 70, Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode problem solving pada pembelajaran IPS tentang sejarah proklamasi Indonesia   pada siswa Kelas V SDN 1 Cijeungjing terbukti berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
                                       Tabel 4.14
                                       Rata-rata Nilai Tes Hasil Belajar Tiap Siklus
No
Pre Tes
Siklus
Tes Akhir
1
52
I
56,8
2
II
78
          
Dari tabel  4.14 di atas dapat diketahui bahwa skor rata-rata tiap siklusnya mengalami peningkatan untuk lebih jelasnya disajikan dalam bentuk diagram berikut ini :
   100
     90                                                                                  Keterangan
     80                                                                                       Pre tes
     70                                                                                       Siklus I
     60                                                                                       Siklus II
     50
     40
     30
     20
     10
       
Gambar 4.3
Diagram Skor Hasil Belajar Siswa Pre tes, Siklus I,  dan Siklus II         
           Pada dasarnya kemampuan belajar (hasil belajar) dipengaruhi oleh interaksi dan kondisi proses pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang dikelola dengan baik salah satunya dengan penggunaan metode problem solving akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehinnga mendorong siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, siswa tidak pasif, pembelajaran tidak bersifat teacher center pembelajaran tidak monoton melainkan dengan penggunaan metode problem solving dapat  meningkatkan hasil belajar siswa.
Jadi penggunaan metode problem solving dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai salah satu keterampilan mengajar yang diharapkan bisa membantu siwa untuk lebih aktif lagi dalam belajar, mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang diberikan dalam materi pelajaran IPS. Dari hasil analisis data yang yang telah disampaikan, terbukti bahwa penggunaan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
            Melihat dari kajian Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang membahas pokok bahasan  sejarah proklamasi Indonesia  melalui penggunaan metode problem solving  di Kelas V SD Negeri 1 Cijeunjing, serta kajian dari berbagai teori yang mendukung pembahasan pokok bahasan ini maka penulis menyimpulkan:
          Perencanaan yang telah dibuat sebelum tindakan belum mengacu pada prinsip-prinsip dalam kurikulum 2006, sehingga hasil yang dicapai belum maksimal.  Sedangkan  perencanaan yang dipersiapkan dalam tindakan  meliputi mengkaji kurikulum 2006 sebagai acuan untuk menyusun RPP. Menentukan kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Sebagai penunjang kegiatan pembelajaran ditetapkan menggunakan metode  pembelajaran yang tepat dan media gambar. Perencanaan  yang disusun oleh peneliti sudah mencapai kriteria keberhasilan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan secara signifikanpembelajaran pokok bahasan sejarah proklamasi Indonesia  dengan menggunakan  metode problem solving di Kelas V  SDN 1 Cijeungjing dapat dikatakan baik ditandai dengan adamya perbaikan serta peningkatan  perencanaan dalam tiap siklusnya. Nilai kinerja guru dalam membuat RPP tiap siklusnya mengalami peningkatan siklus I mencapai skor 67,5, dan siklus II mencapai skor 89.
          Pelaksanaan pembelajaran yang dirancang sebelum tindakan belum sesuai dengan metode yang tepat, terbukti proses pembelajaran serta aktivitas siswa belum maksimal.  Pembelajaran tampak  monoton dan kurang melibatkan siswa secara aktif, sehingga suasana membosankan dan siswa kurang bersemangat.  Sedangkan  Pelaksanaan pembelajaran yang dirancang pada tindakan  sudah sesuai dengan perencanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran yang tepat serta media gambar tentang sejarah proklamasi Indonesia. Metode pembelajaran ini mendapat respon yang baik dari siswa. Hal ini terlihat dari antusias mereka ketika mengikuti pelajaran, walaupun belum benar-benar maksimal. Umumnya kinerja guru dituntut untuk benar-benar menguasai materi serta karakteristik metode  pembelajaran yang digunakan, agar tercipta pembelajaran yang menghantarkan siswa untuk bisa menghubungkan kebermaknaan setiap pelajaran yang dipelajarinya serta menggali dan menemukan pengetahuan baru oleh dirinya siswa.  Proses pembelajaran pada pokok bahasan sejarah proklamasi Indonesia  dengan menggunakan  metode problem solving di Kelas V SDN 1 Cijeungjing yang telah dilaksanakan peneliti, dalam pelaksanaannya berjalan lancar, ada peningkatan pada tiap siklusnya, tujuan pembelajaran dapat tercapai. Nilai kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran tiap siklusnya mengalami peningkatan siklus I mencapai skor 72 dan siklus II mencapai skor 90.
          Hasil belajar yang dicapai siswa kelas V SDN 1 Cijeungjing pada pokok bahasan sejarah proklamasi Indonesia sebelum dilaksanakan tindakan belum memuaskan, di mana hasil ulangan siswa masih di bawah rata-rata KKM yang telah ditetapkan.  Rendahnya hasil belajar siswa ini sangat erat hubungannya dengan  ketidak berhasilannya proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, sehingga diperlukan upaya perubahan melalui tindakan yang mengacu pada metode yang tepat.  Maka setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan menggunakan  metode problem solving mengalami peningkatan tiap siklusnya  di antaranya ,siklus I mencapai rata-rata 56,8, dan siklus II mencapai  rata-rata 78. Hal ini dibuktikan dari hasil tes yang diperoleh tiap siklus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.  Dari peningkatan nilai tes menunjukkan bahwa penggunaan  metode problem solving sangat berperan dalam meningkatkan hasil belajar siswa di Kelas V SDN 1 Cijeungjing pada pokok bahasan sejarah proklamasi Indonesia  sehingga hasil belajar siswa  telah mencapai KKM yang ditentukan.
          Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data serta kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka pada kesempatan ini peneliti memberi saran berikut ini :
          Bagi guru sekolah dasar hendaknya membiasakan diri untuk menggunakan  metode problem solving dalam menyampaikan materi guna mencapai tujuan pembelajaran dan pembelajaran tidak bersifat teacher center.
          Bagi SDN 1 Cijeungjing, penggunaan  metode  problem solving  hendaknya lebih diterapkan dalam setiap pembelajaran.
          Bagi UPTD  hendaknya mensosialisasikan pentingnya penggunaan  metode problem solving  dalam setiap  pembelajaran guna mendukung kelancaran proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan guru dan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

CONTOH PENGERTIAN HIPERAKTIVITAS MAKALAH PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF PADA USIA DINI-SD

Pengaruh Hiperaktivitas Terhadap Perkembangan Anak

Menurut Irawati Iskandar (2009), pengaruh jangka panjang terhadap anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dengan Hiperaktivitas (GPPH/ADHD).
1. Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik, sehingga akhirnya
    mengalami kegagalan sekolah.
2. Anak sering tidak patuh terhadap perintah orang tua.
3. Anak sulit didisiplinkan, sehingga akhirnya mempunyai hambatan fungsi sosial dan pekerjaan.


Dalam upaya pencegahan, yang penting bagi kita adalah :
1. Mencoba menganalisis masalah yang dihadapi.
2. Mencari jalan untuk mencairkan suasana yang terlanjur tegang dan berusaha membina kembali hubungan yang hangat dan positif, yanag selanjutnya akan digunakan sebagai landasan untuk pelaksanaan sistem kontrol.
3. Menerima atau mencari bantuan dari luar bila diperlukan.

Mengatasi Hiperaktivitas

            Orang tua dan anak-anak hiperaktifnya berkembang dengan baik sering kali adalah orang tua yang berhasil mengatasi sendiri masalah mereka.
1. Mereka telah menemukan cara-cara untuk mengidentifikasi dan merangsang pengendalian diri anak mereka.
2. Mereka memberlakukan aturan-aturan yang jelas, dan mereka berusaha sebanyak mungkin meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bersama anak mereka bahkan meskipun di antara mereka juga sering terjadi pertentangan.
3. Mereka berusaha mengendalikan diri mereka sendiri.
4. Sebagai suami istri, mereka tetap berusaha agar pendekatan mereka sejalan.
ADHD sering kali ditanggani dengan obat, terkadang dikombinasikan dengan terapi prilaku,konseling,pelatihan keterampilan sosial,dan penempatan ruang kelas khusus. Dalam jangka pendek psikomotorik stimulan seperti Methylphenidate (“Ritalin”), yang digunakan dalam dosis yang tepat tampaknya aman dan efektif, akan tetapi dampak jangka panjangnya tidak diketahui (AAP Committee On Children with disabilities dan committee on Drugs,1996;Elia et all,1999;NIH,1998;Rodrigues,1999;USDHHS,1999c; Zametkin,1995;Zametkin & Ernst,1999).sebuah studi 14 bulan yang dilakukan secara acak terhadap 579 anak penderita ADHD usia 7 sampai 9 tahun menemuka program perawatan denagn Ritalin yandg dimonitor secara hati-hati, baik berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan modifikasi prilaku, lebih efektif di bandingkan dengan terapi prilaku saja atau perawatan komunitas standar (MTA cooperative group,1999). Obat lebih baru yang disebut Atomoxehrie tampaknya juga aman dan efektif bagi ADHD (Michelson et al,2001).

Metode Penanganan Anak Hiperaktif diLingkungan Keluarga



Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
2. Kenali kelebihan dan bakat anak
3. Membantu anak dalam bersosialisasi
4.Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
6. Menerima keterbatasan anak
7. Membangkitkan rasa percaya diri anak
8. Bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya.
9. Latih anak-anak dapat medisiplin diri sendiri dengan sistematis, konsisten, jelas
dan konsekuen.
10. Jangan menghukum anak hiperaktif karena itu bukan sepenuhnya kesalahan dia
.
11. Jangan menjuluki anak hiperaktif dengan julukan yang buruk, seperti nakal, bodoh, dan lain sebagainya, karena mereka akan menjadi seperti apa yang kita katakan. Dan menjadi anak yang tidak percaya diri.
12. Penanganan sebaiknya diberikan mulai dari keluarga terdekat (ibu).
13. Memberikan kasih sayang kepada anak namun tidak memanjakannya.
14. Ketika menasehati anak sebaiknya jelas dan spesifik serta diulang-ulang agar
anak mudah memahami dan menggunakan kekerasan.
15. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak, selalu katakan ia anak baik dan   berikan apresiasi bila ia melakukan hal yang baik.
16. Hindari tayangan TV, video dan games yang bersifat kekerasan
17. Praktekan pola hidup sehat dengan menu makanan alamiah yang sesuai
Kebutuhan anak.


  Penanganan Anak Hiperaktif di Taman Kanak-Kanak


           
            Untuk penanganan anak hiperaktif di Taman Kanak-kanak dapat mengunakan metode bermain, metode ini sangat baik diberikan kepada anak hiperaktif karena anak akan belajar mengendalikan diri sendiri dan memahami dunianya. Dengan menggunakan metode bermain kepada anak seperti ini diperlukan guru-guru yang harus menemaninya. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreatifitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat si anak. Bagi anak seperti ini, metode ini dapat diberikan dan anak akan merasa sangat senang. Karena anak itu dapat dengan bebas melakukan kegiatannya yang dirasakan cukup baik bagi dirinya. Melalui kegiatan bermain ini anak dapat menggunakan fisik-motorik. Bermacam-macam cara dan teknik dapat dipergunakan dalam kegiatan tersebut seperti merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompat, menendang dan melempar. Guru atau pembimbing anak dapat melakukan metode bermain ini sehingga anak tersebut tidak cepat bosan dengan cara yang diberikan oleh guru. Seperti mengajak anak untuk bernyanyi yang menggunakan aturan main, anak seperti ini akan tertarik untuk melakukannya.
            Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan. Anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain ini seperti bagaimana caranya memasak, mengapa pohon layu bila tidak diberi air, dan sebagainya. Kegiatan menggambar dapat juga diberikan kepada anak hiperaktif termasuk didalam kegiatan bermain. Anak dalam menggambar dapat menggunakan pensil warna dan kertas gambar. Cara seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyalurkan tenaga pada dirinya.


Penanganan anak hiperaktif melalui bimbingan dan konseling di Taman Kanak-Kanak, dapat pula dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Mulailah pelajaran dengan kegiatan yang mengeluarkan energi, seperti gerak dan lagu. Tujuannya untuk mengurangi kelebihan energi khususnya pada anak yang hiperaktif.
2. Tutuplah benda-benda yang menarik perhatian anak.
3. Gunakan warna cat yang lembut untuk kelas dan peralatan yang ada serta hindari warna-warna yang terlalu menyolok.
4. Selalu menjelaskan kepada anak hiperaktif mengenai kegiatan yang akan dilakukan, meliputi jenis kegiatannya, hasil yang diharapkan, dan lama waktu yang dibutuhkan agar anak tersebut senantiasa mengingat tugasnya.
5. Berilah label pada setiap tempat penyimpanan benda karena anak yang hiperaktif suka mengambil benda dan lupa mengembalikannya.


CONTOH PENGERTIAN HIPERAKTIVITAS MAKALAH PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF PADA USIA DINI-SD



Pengertian Hiperaktivitas
Kata “hiperaktivitas” (hiperaktivity) digunakan untuk menyatakan suatu pola prilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan implusif (semau gue). Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam bahkan dalam situasi-situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permaianan atau mainan yang umumnya disukai anak-anak lain seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan satu ke yang lain.
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa dalam Irawati Ismail (2009).
Dr. Seto Mulyadi dalam Irawati Ismail (2009) dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, Tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
Hiperaktivitas juga mengacu ke tiadanya pengendalian diri, misalnya mengambil keputusan atau kesimpulan tanpa memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul, dan sering menyebabkan pelakunya terkena hukuman atau mengalami kecelakaan.
Hiperaktivitas tidak selalu harus dinyatakan sebagai penyakit. Kendatipun demikan, hiperaktivitas juga bisa merupakan gejala(symptom) yang menunjukkan adanya sesuatu yang salah dalam perkembangan anak anda. Kalau anak anda hampir sepanjang waktu tampak sangat hiperaktif, dalam situasi apapun yang dihadapinya maka gejala ini perlu diselidiki. Perangai demikian mungkin tetap ada untuk jangka waktu yang panjang dan cukup parah untuk mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, kemampuan belajarnya, dan kebahagiaannya. Pola tingkah laku ini kadang-kadang disebut “sindrom hiperkinetik”. Umumnya sindrom hiperkinetik  menyebabkan seorang anak tidak bisa menjadi dewasa. Anak seperti ini tidak dapat mengembangkan pengendalian dirinya dengan laju yang sama seperti pada anak-anak lain yang seusia.
            Di banyak negara penyebab pola prilaku ini berbeda-beda, baik secara fisik maupun psikologik, ada yang turunan, ada pula karena pengaruh lingkungan. Di hampir seantaro dunia, hiperaktivitas dipandang sebagai suatu risiko terhadap perkembangan psikologik, dan karena itu tidak mengherankan bila banyak orang yang mencemaskannya dan berusaha membantu memecahkannya.
            Hiperaktivitas yang diderita oleh anak-anak hiperaktif biasanya tidak dalam tingkat yang sama. Hiperaktivitas mereka biasanya menurun sampai saat mereka beranjak remaja. Yang lebih menghawatirkan adalah bahwa mereka cenderung mengalami kegagalan di sekolah, yang bisa menyebabkan sangat buruknya penilaian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka cenderung menghukum diri atau membalas dendam dengan merusak hubungan antara mereka dengan orang-orang yang paling dekat.
            ADHD diderita oleh sekitar 2-11 % anak usia sekolah seluruh dunia (Zametkin & Ernst,-1999) & sampai 3-4 % terdapat di AS (Bloom & Tonthat,2000) ;USDHHS,1999c ), walaupun beberapa riset menyatakan penyebaran tidak dapat diperkirakan (Rowlan et all,2002). Gangguan tersebut ditandai dengan beerkesinambungannya ketidak mampuan memperhatikan, tingkat ketertarikan terhadap gangguan (distractibility), impulsivitas,toleransi yang rendah terhadap frustasi dan banyak aktivitas yang dilakukan pada waktu dan tempat yang salah seperti di ruang kelas (APA,1994). Anak laki-laki memiliki kecendrungan empat kali lipat lebih besar daripada anak perempuan (Barkley,1998b;USDHHS,1999c;Zametkin & Ernst,1999)

CONTOH FAKTOR FAKTOR PENYEBAB HIPERAKTIF MAKALAH PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF PADA USIA DINI-SD

Faktor-Faktor Penyebab Hiperaktif


Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain:

1. Faktor Genetik


Anak laki-laki dengan eksra kromosom Y yaitu XYY, kembar satu telur lebih  memungkinkan hiperaktif dibanding kembar dua telur.

2. Faktor Neurologik


Penelitian menunjukan, anak hiperaktif lebih banyak disebabkan karena gangguan fungsi otak akibat sulit saat kelahiran, penyakit berat, cidera otak.

3. Faktor Lingkungan


Racun atau limbah pada lingkungan sekitar bisa menyebabkan hiperaktif terutama keracunan timah hitam (banyak terdapat pada asap knalpot berwarna hitam kendaraan bermotor yang menggunakan solar).

4. Faktor Kultural dan Psikososial


a. PemanjaanPemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
b. Kurang disiplin dan pengawasan.
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab perilakunya kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain termasuk di sekolah. Dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya di tempat lain baik di sekolah.
c. Orientasi kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau mendengarkan dan menyesuaikan diri.

Satu hal lain yang membantu berkembangnya hiperaktivitas adalah penggunaan hukuman secara tidak bijaksana oleh orang tua.


               
               

CONTOH PENGARUH DAN CARA PENANGANANNYA ANAK HIPERAKTIF DALAM MAKALAH PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF PADA USIA DINI-SD

Pengaruh Hiperaktivitas Terhadap Perkembangan Anak

Menurut Irawati Iskandar (2009), pengaruh jangka panjang terhadap anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dengan Hiperaktivitas (GPPH/ADHD).
1. Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik, sehingga akhirnya
    mengalami kegagalan sekolah.
2. Anak sering tidak patuh terhadap perintah orang tua.
3. Anak sulit didisiplinkan, sehingga akhirnya mempunyai hambatan fungsi sosial dan pekerjaan.


Dalam upaya pencegahan, yang penting bagi kita adalah :
1. Mencoba menganalisis masalah yang dihadapi.
2. Mencari jalan untuk mencairkan suasana yang terlanjur tegang dan berusaha membina kembali hubungan yang hangat dan positif, yanag selanjutnya akan digunakan sebagai landasan untuk pelaksanaan sistem kontrol.
3. Menerima atau mencari bantuan dari luar bila diperlukan.

Mengatasi Hiperaktivitas

            Orang tua dan anak-anak hiperaktifnya berkembang dengan baik sering kali adalah orang tua yang berhasil mengatasi sendiri masalah mereka.
1. Mereka telah menemukan cara-cara untuk mengidentifikasi dan merangsang pengendalian diri anak mereka.
2. Mereka memberlakukan aturan-aturan yang jelas, dan mereka berusaha sebanyak mungkin meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan bersama anak mereka bahkan meskipun di antara mereka juga sering terjadi pertentangan.
3. Mereka berusaha mengendalikan diri mereka sendiri.
4. Sebagai suami istri, mereka tetap berusaha agar pendekatan mereka sejalan.
ADHD sering kali ditanggani dengan obat, terkadang dikombinasikan dengan terapi prilaku,konseling,pelatihan keterampilan sosial,dan penempatan ruang kelas khusus. Dalam jangka pendek psikomotorik stimulan seperti Methylphenidate (“Ritalin”), yang digunakan dalam dosis yang tepat tampaknya aman dan efektif, akan tetapi dampak jangka panjangnya tidak diketahui (AAP Committee On Children with disabilities dan committee on Drugs,1996;Elia et all,1999;NIH,1998;Rodrigues,1999;USDHHS,1999c; Zametkin,1995;Zametkin & Ernst,1999).sebuah studi 14 bulan yang dilakukan secara acak terhadap 579 anak penderita ADHD usia 7 sampai 9 tahun menemuka program perawatan denagn Ritalin yandg dimonitor secara hati-hati, baik berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan modifikasi prilaku, lebih efektif di bandingkan dengan terapi prilaku saja atau perawatan komunitas standar (MTA cooperative group,1999). Obat lebih baru yang disebut Atomoxehrie tampaknya juga aman dan efektif bagi ADHD (Michelson et al,2001).

Metode Penanganan Anak Hiperaktif diLingkungan Keluarga



Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
2. Kenali kelebihan dan bakat anak
3. Membantu anak dalam bersosialisasi
4.Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
6. Menerima keterbatasan anak
7. Membangkitkan rasa percaya diri anak
8. Bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya.
9. Latih anak-anak dapat medisiplin diri sendiri dengan sistematis, konsisten, jelas
dan konsekuen.
10. Jangan menghukum anak hiperaktif karena itu bukan sepenuhnya kesalahan dia
.
11. Jangan menjuluki anak hiperaktif dengan julukan yang buruk, seperti nakal, bodoh, dan lain sebagainya, karena mereka akan menjadi seperti apa yang kita katakan. Dan menjadi anak yang tidak percaya diri.
12. Penanganan sebaiknya diberikan mulai dari keluarga terdekat (ibu).
13. Memberikan kasih sayang kepada anak namun tidak memanjakannya.
14. Ketika menasehati anak sebaiknya jelas dan spesifik serta diulang-ulang agar
anak mudah memahami dan menggunakan kekerasan.
15. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak, selalu katakan ia anak baik dan   berikan apresiasi bila ia melakukan hal yang baik.
16. Hindari tayangan TV, video dan games yang bersifat kekerasan
17. Praktekan pola hidup sehat dengan menu makanan alamiah yang sesuai
Kebutuhan anak.


  Penanganan Anak Hiperaktif di Taman Kanak-Kanak


           
            Untuk penanganan anak hiperaktif di Taman Kanak-kanak dapat mengunakan metode bermain, metode ini sangat baik diberikan kepada anak hiperaktif karena anak akan belajar mengendalikan diri sendiri dan memahami dunianya. Dengan menggunakan metode bermain kepada anak seperti ini diperlukan guru-guru yang harus menemaninya. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreatifitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat si anak. Bagi anak seperti ini, metode ini dapat diberikan dan anak akan merasa sangat senang. Karena anak itu dapat dengan bebas melakukan kegiatannya yang dirasakan cukup baik bagi dirinya. Melalui kegiatan bermain ini anak dapat menggunakan fisik-motorik. Bermacam-macam cara dan teknik dapat dipergunakan dalam kegiatan tersebut seperti merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompat, menendang dan melempar. Guru atau pembimbing anak dapat melakukan metode bermain ini sehingga anak tersebut tidak cepat bosan dengan cara yang diberikan oleh guru. Seperti mengajak anak untuk bernyanyi yang menggunakan aturan main, anak seperti ini akan tertarik untuk melakukannya.
            Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan. Anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain ini seperti bagaimana caranya memasak, mengapa pohon layu bila tidak diberi air, dan sebagainya. Kegiatan menggambar dapat juga diberikan kepada anak hiperaktif termasuk didalam kegiatan bermain. Anak dalam menggambar dapat menggunakan pensil warna dan kertas gambar. Cara seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyalurkan tenaga pada dirinya.


Penanganan anak hiperaktif melalui bimbingan dan konseling di Taman Kanak-Kanak, dapat pula dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Mulailah pelajaran dengan kegiatan yang mengeluarkan energi, seperti gerak dan lagu. Tujuannya untuk mengurangi kelebihan energi khususnya pada anak yang hiperaktif.
2. Tutuplah benda-benda yang menarik perhatian anak.
3. Gunakan warna cat yang lembut untuk kelas dan peralatan yang ada serta hindari warna-warna yang terlalu menyolok.
4. Selalu menjelaskan kepada anak hiperaktif mengenai kegiatan yang akan dilakukan, meliputi jenis kegiatannya, hasil yang diharapkan, dan lama waktu yang dibutuhkan agar anak tersebut senantiasa mengingat tugasnya.
5. Berilah label pada setiap tempat penyimpanan benda karena anak yang hiperaktif suka mengambil benda dan lupa mengembalikannya.